JELAJAH

Jumat, 3 Agustus 2018 - 15:38

1 tahun yang lalu

logo

Santai menikamati gemercik Air Terjun Raja, Pulau Morotai, Selasa 17 Juli 2017

Air Terjun, Jejak “RAJA” dalam Bayang Kuasa

Kemana saja kaki melangkah disitulah jejak keindahan alam, pengetahuan, sekaligus penderitaan. Dan pada sebuah lokasi adalah tepat terkumpulnya narasi, begitu juga alam Morotai yang indah dan masih hijau-asri

Jufri Abubakar

Peneliti Institute Agraria Kepulauan

Keindahan pantai pulau Morotai membuat orang takjub. Tapi kali ini, saya memutuskan untuk menikmati keindahan hutan sekaligus air terjun, bersama sahabat Firjal, Hendra, dan Wir di belantara hutan Morotai. Wisata hutan dan air terjun adalah salah satu pilihan destinasi wisata di morotai selain dari wisata pantai. Keindahan alam adalah ciptaan agung agar manusia bisa bersyukur.

Air terjun Raja adalah tujuan kami. Sebelum berangkat, saya, Hendra dan Firjal menyiapkan keperluan perjalanan. Mini compor, nesting, mie, cemilan dan air minum. Saya membatasi air minum karena pengalaman perjalanan pertama saya, air terjun Raja bisa diminum, dan rasanya lebih enak dibandingkan dengan air mineral yang bermerk.

Semua persediaan telah siap di ransel saya, kami bergegas menuju air terjun Raja. Dari Daruba, perjalanan ke air terjun ditempuh sekitar satu jam dengan menggunakan sepeda motor. Sebenarnya, motor bisa dibawa sampai ke air terjun pertama. Akan tetapi, kami bersepakat untuk menitipkan di rumah warga agar bisa menyusuri sungai dengan berjalan kaki. Kami tidak ingin melewatkan sejengkal hijau alam nan asri yang hanya bisa dinikmati di pagi hari.

Hendra berinisiatif membuat video sepanjang perjalanan meski terik matahari memapar wajah. Baju kami mulai basah keringat karena melewati beberapa bukit yang sayangnya telah digusur untuk pembuatan jalan. Dari jauh, suara air terjun membuat dua sahabat saya tak sabaran. “Air babunyi tu berarti so dekat,” ucap Wir sambil menghela napas.

Perjalanan di bawah terik panas dan melelahkan selama satu jam akhirnya terbayar, gemercik air terjun yang jatuh memberikan suasana sejuk di tengah-tengah hutan kian terasa. Sekejap kami tunduk dan takjub atas ciptaan yang luar biasa.

Sambil menikmati jernihnya air dan keheningan alam, kami menyeduh kopi dengan air yang diambil dari air terjun Raja. “Airnya Lebih enak dari air Aq*a” puji Wir. Setelah kopi dan mie kami lahap habis, foto-foto adalah kegiatan selanjutnya. Sore hari kami  pulang.

Di perjalanan Firjal menyempatkan untuk memunguti sampah yang dibuang oleh pangunjung lain. Firjal membawa sampah-sampah itu sampai ke desa. “Bersih itu sebagian dari iman,” kata Firjal.

Dari air terjun, kita dapat menemukan keunikan tersendiri. Kendati angin menerpa di atas sana, tapi saat di bawah ia akan terlihat begitu indah. Dan saat terjun pun serupa, ia akan terlihat begitu mempesona. Hidup pun sama seperti air terjun. Terlihat begitu sempurna, namun bisa terjatuh jua. Dan saat jatuh kebawah, keindahanya akan menyilaukan dunia

Lihat juga video perjalanan kami, klik link berikut
1.via Youtube https://www.youtube.com/watch?v=3fXDhm0BmTQ&t=389s
2. Via Facebook https://web.facebook.com/Hendrageos/videos/1381034592040706/

Jalan Masuk Penguasa

Setiap Raja pasti memiliki kuasa, tetapi keindahan Air Terjun Raja akan tak berarti apa-apa bagi warga desa Raja, karena bakal dirampas oleh penguasa.

Mungkin yang lain setuju dengan penggusuran pembuatan jalan ke air terjun ke 7. Tetapi saya secara pribadi tidak sepakat dengan pembuatan jalan. Saat kami menuju air terjun “Raja” mesin tractor sedang menggusur dan sudah melewati jalan turun ke air terjun.

Satu minggu sebelumnya, saya dan lima kawan lainnya mendaki ke air terjun Raja. Waktu itu baru digusur sampai ke air terjun pertama. Saya mengira hanya akan sampai di situ namun perkiraan saya ternyata salah. Jalan raya akan dibuka sampai ke air terjun.

Sebelum jalan digusur, jalan menuju air terjun adalah jalan kebun warga. Warga tiap saat jalan kaki dan ada juga yang menarik kayu dengan bantuan sapi.

Di perjalanan saya sempat mengatakan pada Firjal bahwa pola hidup masyarakat sedang dipaksa berubah oleh kapital dan disetujui oleh pemda. Ruang hidup mereka diserobot. Bagaimana tidak, warga yang awalnya berjualan di lokasi air terjun pertama kemungkinan akan menurun pendapatanya karena akses kendaraan sudah bisa sampai air terjun ke 7. Itu artinya, pengunjung tidak perlu singgah di air terjun pertama untuk membeli pisang goreng dan kelapa muda. Lebih parah lagi kalau air terjun dikelola oleh swasta, maka akses warga tentu akan dibatasi.

Pola kehidupan petani juga mungkin berubah. Petani yang awalnya jalan kaki ke kebun mungkin akan tergoda memiliki sepeda motor. Mau tidak mau, mereka harus kredit. Jika sudah memiliki sepeda motor maka financial asset berkurang. Selain itu mereka juga masih harus menyisahkan uang untuk membeli bensin. Jalan kaki sebagai pola hidup sehat juga ditinggalkan.

Pariwisata pro-rakyat.

Firjal melontarkan satu pertanyaan pada saya ” sebenarnya pembangunan ini untuk siapa ?”. Saya yakin pertanyaan ini karena dia ragu dengan pembuatan jalan ke air terjun Raja untuk kepentingan masyarakat tetapi justeru untuk kepentingan pemodal. Maksudnya, lokasi air terjun mungkin bakal dikelola oleh swasta bukan warga.

Air terjun Raja adalah salah satu lokasi yang bisa manjadi ruang ekonomi masyarakat desa. Warga yang rutinitasnya di kantor akan berkunjung melepas penat dan dari situ warga bisa menjual dagangan atau mematok tarif masuk. Parkiran juga bisa disediakan warga dengan memberdayakan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Dengan demikian, Akan ada pendapatan warga dari wisata Air Raja.

Pemerintah Kabupaten Pulau Morotai mungkin berniat membuka akses untuk mempermudah wisatawan. Akan tetapi, pembuatan jalan itu bisa membuat masyarakat akan terusir dari tanah mereka sendiri. Mirisnya, akses ekonomi warga yang sudah berada di depan mata, digerogoti oleh penguasa.

Warga desa harusnya diberdayakan dengan memberikan ruang partisipatif kepada mereka untuk mengusulkan serta terlibat langsung dalam pengembangan pariwisata. Dengan begitu, pariwisata adalah tanggung jawab bersama warga dan pemda, bukan pemda dengan swasta. Semoga saja wisata Air Raja terus memberi peluang ekonomi warga desa.

Baca Lainnya