Cerpen

Senin, 30 Juli 2018 - 12:49

1 tahun yang lalu

logo

Surat untuk Toety di Medio 1998

Hai Toety… Sehatkah kau pada hari ini di 20 tahun silam ? Sudahkah fajar menyingkap tirai malam ? Masihkah kau sambut pagi dengan membuka lebar jendela kamar ? Lalu dengan jemari mungilmu, masihkah kau berupaya menangkap tiap tetes embun yang jatuh dari atap rumah ?

Masihkah kau menatap dan membentuk awan-awan di langit serupa kambing, bebek, ayam, putri, raja dan apapun yang sekilas menajami fantasi liarmu ?

Siang ini kau pasti akan bermain Lengkalileng atau rumah-rumahan bersama teman-temanmu kan ? Kalian akan membangun rumah dari bahan kayu lata yang kalian curi dari bengkel bangunan milik bapaknya Teti. Atap rumbia kalian ambil dari kandang ayam bapak. Rumah-rumahan dengan tinggi tidak lebih dari satu meter ini sering membuat kalian kejedot. Kau senang berperan sebagai ibu rumah tangga yang selalu sibuk memasak dan membersihkan rumah, sembari sesekali melempar murka ke teman-teman yang berlakon sebagai anak-anakmu.

Sudah kembalikah kau dari sekolah ? Bukankah bulan ini sedang musim hujan di sana ? Sekolahmu pasti kebanjiran lagi ya ? Kau pasti minta digendong teman kelasmu hingga keluar pagar dan tiba di jalan aspal depan sekolah. Ingatkah dengan ceritamu tahun kemarin ? Setelah hujan mereda dan banjir mulai surut, kalian akan sibuk membersihkan seisi sekolah. Salah seorang temanmu gemar menangkap cacing dan menakut-nakuti kalian.

Bukankah Tobelo merupakan tempat paling nyaman buatmu ? Di pesisir utara Haliyora (Halmahera) inilah kau tumbuh menjadi seorang gadis yang sehat dan kuat. Di sana, kalian anak-anak pesisir menaruh harapan besar pada sumberdaya laut yang melimpah ruah. Sagu dan ikan merupakan sumber pangan pokok kalian.

Ketika kelas olahraga, sering kalian meminta guru untuk diajak ke Pantai Rawajaya yang dekat dengan pelabuhan. Di sana, kau dan teman-teman masa kanakmu akan asyik batobo (berenang) hingga lupa pulang.

Toety, jangan tumbuh besar terlalu cepat sayang…

Di sini tidak seindah masamu saat ini. Kau tak lagi bebas bermain. Ruang bermain itu kini berganti dengan mallmall, pabrik, dan tambang. Kau tak lagi bisa menerobos masuk ke dapur tetangga untuk minta minum. Di sini, kau harus membayar seribu-dua ribu perak tuk sekadar hilangkan dahaga. Ya, bukan air yang menjadi penawar bagi rasa hausmu, melainkan uang.

Di sini kau tak lagi bebas berenang di sungai dan laut sepuas hati. Aroma amis khas pesisir kini berganti sengatan perih merkuri. Gurango (hiu) yang menjadi kebanggaan nelayan, kini semakin menjauh. Perahu Om Opel tak lagi berlabuh di pesisir Kampung Baru. Perahu yang kerap mengantarkan kalian piknik ke pulau-pulau kecil di utara Haliyora : Kakaraino, Tulang, Rarangane, Kumo, atau Tolonuo. Kalian yang tak pernah luput melaksanakan ritual bakar ikan hasil tangkapan ditemani bekal sagu kering dari daratan, lalu kalian lahap hingga habis tak bersisa.

Di sini, semenanjung bibir pantai yang kerap dicumbui ombak tak lagi ada, berganti dengan timbunan tanah, batu, dan pasir. Kami mengenalnya swering, dan orang-orang pintar menyebutnya reklamasi. Lambaian nyiur khas pesisir berganti wajah menjadi taman kota yang berhias beberapa Pohon Akasia. Pulau-pulau dengan hamparan pasir putih juga tak lagi bisa kami jamah. Di sana telah bertengker beberapa baliho dan papan nama bertuliskan ‘Kakara Resort’, ‘Tulang Resort’, ‘Rarangane Resort’, ‘Kumo Resort’, ‘Tolonuo Resort’. Tulisan resort itu bermakna peringatan bagi kami agar tak lagi menginjakkan kaki di atas pulau-pulau tersebut.

Toety, kenalkah kau apa itu bulldozer ?

Baru kemarin Rawajaya digilas alat berat itu. Rumah-rumah nelayan, kios-kios pedagang ikan diratakan dengan tanah. Konon, menurut orang-orang pintar, kampung nelayan itu harus digusur demi perluasan pembangunan infrastruktur pelabuhan. Para keluarga nelayan direlokasi ke Belakang Emkase-em, kawasan perkampungan baru di daerah yang menjorok ke dalam. Bisakah kau bayangkan Toety ? Para pelaut yang biasanya berburu ikan dan hasil tangkapan kemudian disuruh menetap di pedalaman hutan dan area kebun kelapa.

Hei ! Bukankah kemarin kau bercerita tentang kesenangan barumu membuat telepon rumah dari kardus bekas ? Katanya kau suka sekali menghabiskan waktu luang dengan mainan barumu itu. Bahkan kerap terbawa hingga ke dalam mimpi.

Toety, di sini kau tak perlu memiliki telepon rumah untuk bisa mengobrol dengan teman-teman jauh. Di sini, kami mengenal mobile phone, handphone, dan smartphone. Semua jenis telepon itu bisa kau tenteng ke mana-mana. Jika kau punya sedikit uang lebih, kau bisa memiliki smartphone. Yang satu ini tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi audio jarak jauh, tapi juga bisa melakukan panggilan video, sms, mms, whatsapp, line, facebook, twitter, instagram, youtube, dan lain-lain. Eits… Ada juga yang namanya BBM, bukan bahan bakar minyak say, tapi Blackberry Messenger. Jangan tanya apa saja fungsi semua fitur di atas, sebab akan butuh dua hingga tiga lembar kertas untuk menjelaskannya. Selain aplikasi untuk komunikasi dengan dunia luar, smartphone juga bisa kau gunakan untuk mengabadikan setiap momen, setiap hari, setiap saat yang kau kehendaki. Bisa untuk mengambil foto atau video.

But the way, selamat 10 tahun menginjak bumi, sayang.

Toety, masih di sanakah dirimu ?

Mulutmu semakin lebar menganga, bukan? Di sini, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi memang sedang mewabah dalam bentuk produk-produk instan semacam smartphone  di atas. Namun begitu, jangan dulu tumbuh dewasa, sayang. Di sini semua hal tampak logis, tapi sebenarnya tidak ada yang benar-benar menggunakan nalar untuk berpikir. Semua kemewahan teknologi itu harus ditukar dengan tanah dan sumberdaya di kampungmu, juga ruang bermainmu. Generasi setelahmu pasti akan sulit menemukan tempat bermain. Hubungan sosial mereka dengan teman-teman tak lagi seperti zamanmu. Mereka berhubungan melalui dunia maya, relasi sosial semu seperti yang kusebutkan di atas. Orang-orang di sini gemar berbelanja, seakan bumi tidak berbatas.

Dan taukah kau ? Sampah plastik dan elektronik menumpuk bagai Bukit Dukono. Orang-orang juga punya kesenangan baru, yakni berperang memperebutkan tanah dan ruang hidup dengan mengatasnamakan Tuhan, lalu banyak dari mereka yang lupa bagaimana menjadi manusia. Dan percayalah Toety, di sini, jendela dunia bukan lagi buku, melainkan Google.

Dari masa depanmu, Juni 2018.

Astuti N.Kilwouw

Baca Lainnya
  • 27 November 2018 - 08:43

    Gua Ayah
  • 26 Januari 2018 - 17:42

    BALINDINA