SIANG itu, Minggu (15/18), matahari sangat terik. Tidak seperti beberapa hari sebelumnya. Sudah sepekan lebih, hujan memang terus mengguyur Kota Ternate. Hari itu, saya ikut menghadiri peresmian Pangaji Nunako Diri di Soa Dorari Isa, Kelurahan Tafraka, Kecamatan Pulau Hiri.

Saya agak terlambat datang ke lokasi acara. Beberapa rekan sudah lebih dulu tiba di sana. Tapi saya tidak sendiri saat hendak ke Pulau Hiri. Menggunakan speedboat, saya beserta sejumlah tamu undangan yang juga terlambat ke tempat acara, baru menuju ke Pulau Hiri sekiranya pukul 14.00.

Sekitar 7 menit perjalanan dari Sulamadaha ke dermaga Pulau Hiri. Saat tiba di sana, acara peresmian sudah berlangsung. Di lokasi acara, saya melihat Ketua KNPI Kota Ternate, Syahroni A Hirto sedang memberikan sambutan. Kami diajak masuk oleh pemuda di sana agar lebih dekat dengan panggung utama.

Beberapa tamu sudah duduk dan saya memilih untuk berdiri agar dapat mengambil beberapa gambar foto. Di atas mimbar, Syahroni memberikan sedikit gambaran terkait Pangaji. Saya duduk menyandar di pagar bambu sembari mendengar dengan saksama. Ia menceritakan pengalamannya bersama orangtua perempuannya saat masih kecil.

“Kalau cerita tentang Pangaji, saya ingat almarhumah Mama saya. Beliau adalah Pangaji pertama di dalam rumah,” ucapnya.

Menurut Syahroni, Pangaji adalah tentang diri dan karakter. Diceritakannya, pada suatu waktu, ketika ia masih kecil, ia pernah belajar mengaji di salah satu tokoh agama di Kelurahan Dufa-Dufa, Kota Ternate, tempat kelahirannya. Sebelum tiba waktu mengaji, ia disuruh mengangkat air di sumur. Hampir setiap hari pekerjaan itu ia lakukan. Baginya, hal tersebut bukan bentuk paksaan, melainkan cara tokoh agama tersebut mengajarkan kepada mereka agar taat pada guru dan selalu disiplin.

“Dulu angkat air dulu di sumur baru mengaji. Mereka keras-keras agar kita disiplin dan terus mau belajar, mau memperbaiki diri serta karakter. Kalau sekarang nanti kita kena HAM,” katanya, diikuti gelak tawa para tamu undangan.

Kapolres Kota Ternate, AKBP Azhari Juanda dan Sekretaris Pemerintah Kota Ternate, M Tauhid Soleman, saat pemotongan pita, meresmikan Pangaji Nunako Diri

Dalam kesempatan itu juga, Kapolres Kota Ternate, AKBP Azhari Juanda dan Sekretaris Pemerintah Kota Ternate, M Tauhid Soleman, juga turut hadir dan ikut memberikan sambutan sekaligus meresmikan Pangaji Nunako Diri yang ditandai dengan pemotongan pita.

Saya kemudian mengabadikan beberapa momen saat sebagian tamu undangan itu masuk ke dalam Pangaji. Tampak memang seperti surau. Terbuat dari ukiran kayu, bambu, dan atap rumbia. Sangat sederhana. Di dalam tersedia meja kayu yang memanjang, beraturan seperti di dalam kelas. Di depan dan belakang terdapat papan tulis dan sejumalh Al-Qur’an yang ditaruh di atas meja kecil.

Saat usai makan, saya bertemu dengan Sofyan Daud, salah satu budayawan Maluku Utara yang juga berkesempatan hadir dalam acara peresmian itu. Dalam kesempatan itu, saya menanyakan seputar Pangaji kepada beliau. Dijelaskan, Pangaji merupakan konsep sekaligus institusi pendidikan agama Islam yang sudah dirintis sejak lama.

“Pangaji ini konsep sekaligus institusi keagamaan Islam yang dirintis oleh salah satu sultan yang punya pengaruh besar dalam syiar Islam, yakni Sultan Zainal Abidin, sultan Ternate yang ke-18,” jelasnya.

Menurutnya, konsep Pangaji menjadi wajib dibimbing oleh para alim seperti imam dan syara. Para imam ini nantinya menjadi guru, pembimbing umat dan generasi dalam suatu komunitas belajar di dalam suatu kampung atau wilayah. Berbeda dengan TPQ, Pangaji tentu lebih kompleks. Sebab tidak hanya diajarkan baca-tulis Qur’an saja, melainkan juga diajarkan dasar-dasar ilmu fiqih, hadist, dan akhlak.

Salah satu tokoh pemuda Kelurahan Tafraka, Irwan Basri, kepada saya juga menjelaskan, bahwa di dalam Pangaji ini akan ada banyak ilmu Islam yang didapatkan. Yang paling terpenting, kata Irwan, Pangaji membuat generasi nanti lebih mengenal diri dan membentuk karakter mereka menjadi lebih baik. “Tidak berlebihan jika saya mengatakan Pangaji adalah sekolah karakter bagi generasi,” katanya.

Sudah sore. Saya beserta rombongan tamu undangan yang lain harus kembali ke dermaga. Menunggu motor laut yang akan ke Ternate. Senja indah yang biasa tampak dari Pulau Hiri tertutup mendung. Cuaca sore itu sedikit gelap. Angis berembus kencang dan terlihat ombak memutih, bergulung-gulung di antara Pulau Ternate dan Hiri.  Adzan magrib terdengar syahdu dari pengeras suara. Saya tidak boleh takut laut. “Bujang harus berani,” kata saya, dalam hati. (*)

Penulis: Rajif Duchlun/Kru jalamalut

Tentang Admin

Pendiri Jalamalut | Pekerja teks bebas.

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *