JELAJAH

Minggu, 8 Juli 2018 - 13:24

1 tahun yang lalu

logo

SAMSUNG CSC

Menikmati Pulau “Seribu Benteng”

“Wangi rempah-rempah telah menjadi cacatan sejarah pulau ini. Bangsa  Portugis, Spayol, Inggris, dan Belanda saling berebut ingin menguasai jalur rempah. Mereka pun membangun benteng-benteng pertahanan mereka. Tak heran, pulau ini pun dijuluki “Pulau Seribu Benteng”

Hujan sudah reda. Waktu sudah menunjukan 09.35 WIT, kurang lebih 42 peserta Workshop Dokumentasi dan Publikasi Cagar Budaya bertajuk “Pulau Seribu Benteng” begegas dari Muara Hotel menggunakan bus mengelilingi Pulau Ternate yang jaraknya kurang lebih 42 kilometer, untuk mengunjungi beberapa Benteng dan objek wisata lainnya.

Link Video:

1. Video Fun Trip “Pulau Seribu Benteng”

2. Video Fun Trip “Pulau Seribu Benteng”

Tak sampai 15 menit, bus tiba di lokasi benteng Tolluco. Dari 42 peserta workshop, kami dibagi menjadi lima kelompok. Kami berada di kelompok tiga yang terdiri dari delapan orang yakni; Fuad At, Abd Haris Nasution, Kadafi Sainur, hasyim, Ami, Adlun Fiqri, Faris Bobero, dan Rinto Taib. Di Benteng Tolloco, kami berinisiatif menulis sosok di balik terjaganya Benteng Tolloco.

 Arsad, Pejuang Cagar

Arsyad Muhamma, 70 tahun, penjaga Benteng Tolluco/Faris Bobero/jalamalut.

Pagar beton Rumah Arsyad Muhammad (70) sejajar dengan Gapura benteng.  Di depan rumahnya adalah jalan menuju pasar Dufa-Dufa dari arah Ternate kota.  Kalau masuk ke benteng, setelah memelului gapura langsung arel parkirnya, berada pas itu di depan pagar benteng yang pintunya boleh dibuka tutup dan dikunci itu. Pintu samping rumah pak Asyad menghadap areal parkir tadi tanpa sekat pagar lagi, yang teras sampingnya diberi beberapa kursi untuk tempat istirah para sopir pengunjung.

Bapak Arsyad Muhammad berusia sudah lebih 70 tahun adalah pernawirawan Polri.  Beliau ini bekerja sebagai penjaga Benteng Toloko Ternate. Untuk itu Pak Arsad pernah digaji, tiap bulan 500ribu yang diambil tiga bulan sekali oleh pemerintah. Sekarang sudah tidak lagi.  Pria beranak 4 ini hanya mengandalkan gaji pensiunnya yang tidak seberapa.  Tambahan pendapatan berupa uang rokok dari pengunjung karena membantu mendampingi pengujung tidak seberapa dan jarang-jarang. Pekerjaannya hanya mengisi waktu luang saja setiap hari.

Pekerjaan bapak pecinta burung ini macam-macam. Memungut-mungut sampah, membuka dan mengunci pintu pagar, memotong rumput menaikkan dan menurunkan bendera di hari-hari tertentu dan lain-lain.

“Di tempat ini kalau malam pintu pagarnya dikunci.  Bila tidak, banyak anak muda berpacaran disini.  Ada yang datang minum-minum mabuk dan membuang sampah sembarangan”, kata Pria yang juga sebagai ketua RT 1 di Kelurahan Sangaji ini.

“Benteng peninggalan Portugis ini biasanya ramai di hari Minggu.  Para pengunjung saat pulang sering kali meninggalkan sampah, terutama pengunjung lokal. Tapi kalau bule tidak, mereka justru memungutnya bila ada” pungkas pak Arsyad.

Sejarah Benteng Tolluco

Benteng Tolluco berada di Kelurahan Dufa-dufa, Utara Kota Ternate. Berjarak kurang lebih 3,5 kilometer dari Badara Sultan Babullah. Awalmulanya, benteng ini didirikan oleh Portugis oleh Francisco Serao pada 1512. Pada 1610, benteng ini  kemudian direnovasi oleh Pieter Boath yang saat itu menjabat sebagai Gubernur Jenderal Belanda di Ternate. Benteng itu pun dikenal dengan nama Benteeng Holandia atau Santo Lucas.

Dalam Buku Ternate Mozaik Kota Pusaka yang ditulis M Sofyan Daud; Di sisi dinding benteng tersebut terdapat prasasti tulisan “Die Hirby Staet. En Gade Slaet, Muyr en wan, seisen in, is spot_Pieter Both” prasasti itu telah dicopot saat pemugaran benteng pada tahun 1996. Pada Tahun 1661 Pemerintah tinggi Hindia Belanda member izin kepada Sultan Mandarsyah menempati Benteng ini beserta 160 orang pasukannya (Andi Atjo, 2008;51).

Batu Angus dan Pertempuran Sekutu

Tampak gunung Gamalama dari lokasi wisata Batu Angus/Faris Bobero/jalamalut

Batu Angus terletak di kelurahan Kulaba, Ternate. Batu Angus (hangus) merupakan bekas aliran lava hasil letusan gunung Gamalama pada abad 18 yang mengalir sejauh 7 kilometer dari puncak gunung Gamalama. Hamparan batu seluas 7 hektar yang dijadikan sebagai objek wisata oleh pemerintah Kota Ternate ini ternyata menyimpan cerita sejarah yang sangat menarik. Menurut Maulana Ibrahim, yang saat itu memandu kami, Batu Angus merupakan lokasi pertempuran pasukan sekutu dengan Jepang pada tahun 1942 yang hendak menguasai Ternate.

“Saat itu sultan hendak dilarikan oleh sekutu ke pulau Hiri melalui Kulaba setelah berhari-hari bersembunyi di hutan Ternate.” Pertempuran ini mengakibatkan beberapa korban dari pihak Jepang. Kedutaan Jepang pernah mendirikan sebuah tugu di salah satu lokasi Batu Angus untuk mengenang para pasukan yang wafat. “Cerita mengenai pertempuran ini pernah dibahas di salahsatu edisi majalah Angkasa terbitan Asutralia” tambah Maulana. Jadi Wisata Minat Khusus Hamparan batu ini sangat cocok bagi peminat wisata

 

Benteng Kastela

Reruntuhan Benteng Kastela/Faris Bobero/jalamalut.

Benteng Kastela, begitu masyarakat lokal menyebut salah satu situs benteng terbesar dalam sejarah kolinialisme di Asia Tenggara. Benteng yang dibangun oleh Portugis ini terletak di selatan Kota Ternate. Kata Kastela sendiri merujuk pada kata Castel atau Castillo yang artinya istana atau benteng.

Pada tahun 1521, ketika Antonio de Brito menjadi gubernur Portugis di Maluku, Ia kemudian ditugaskan membangun benteng ini pertama kali. Antonio de Brito pun menghadap Nyai Cili Boki Raja Nukila, yang saat itu menjadi Waliraja, atas anaknya yang masih belia, Jalaludin Diyal yang dikenal dengan nama Sultan Deyalo.

Setelah Bayanullah wafat (Suami Boki Raja Nukila), Brito berhasil membujuk Boki Raja Nukila untuk membangun benteng pada 24 Juli 1522 di wilayah yang bernama Sampalu atau Malayu. Pada Tahun 1540, seluruh pembangunan benteng selesai dibangun dan diberinama Santo Pedro, kemudian dikenal dengan nama Nostra Senora del Rosario, atau Gadis Berkalung Bunga.

Rusli Jalil,  dalam  weblog pribadinya berjudul “Castellia Nostra Senora del Rosario” menulis  Soal nama ini ada dua versi cerita. Pertama, karena keindahan benteng yang lebih menyerupai benteng kota ini, hingga penguasa Portugis menamai demikian. Versi kedua menyebutkan, nama ini diberikan karena di situ juga bermukim seorang gadis yang senang sekali berkalung bunga.

Kolonial tidak hanya merampas sumber daya alam di negeri rempah, namun lebih dari itu telah menguasai cara berpikir kita dengan “mengaburkan sejarah” bahkan membangun mitos-mitos di tengah kehidupan orang-orang Maluku. Riwayat kelahiran kerajaan-kerajaan di Maluku tidak terlepas dari mitos yang dibangun mirip dengan legenda yang ada di Pulau Jawa seperti legenda Jaka Tarub di Jawa Timur.

Benteng Kalamata

Lokasi Benteng Kalamata/Fuad At/ GenPi Malut

Benteng Kalamata terletak di Kelurahan Kayu Merah, Ternate Selatan. Jaraknya kurang lebih 3-4 kilometer dari pusat Kota Ternate. Beberapa sumber menyebutkan, benteng ini dibangun oleh Belanda pada tahun 1609 setelah itu, benteng diduduki oleh Spanyol.

Sofyan Daud (2012:55) menulis, Nama Kalumata atau Kalamata, diambil dari nama seorang Pangeran Ternate yang wafat di Makassar pada Maret 1676.

Pemugaran pemerintah Indonesia pada tahun 1994. Terakhir pada tahun 2005 oleh pemerintah Kota Ternate.

Sebagian sumber disadur dari tulisan Faris Bobero

 

 

Baca Lainnya