TELAAH

Sabtu, 19 Mei 2018 - 16:25

1 tahun yang lalu

logo

Ramadhan, sebuah catatan pinggir di negeri asal

Ramadhan adalah bulan Suci bagi umat Islam. Bagi masyarakat muslim tentunya banyak manfaat dan keuntungan tersendiri di bulan Ramadhan, baik dari aspek kesehatan, ekonomi, sosial, dan agama itu sendiri. Maluku Utara adalah masyarakat madani, negeri yang tak lepas dari percikan berkah bulan suci ini. ada kisah di dalamnya..

Ramadhan, bulan suci bagi umat Islam. Masyarakat Maluku Utara kian bersuka cita menghadapi bulan yang berkah di tiap tahunnya. Aktifitas pasar, sosial, dan agamis tak lepas dari masyarakat plural di negeri yang dibangun dari kejayaan masa lalunya. Banyak hal yang penulis lihat beberapa tahun terakhir terkait hubungannya dengan berbagai aspek yang menguntungkan bagi masyarakat. Namun menjadi sebuah telaah tersendiri bagi pembaca menganalisis semua fakta itu.

Aspek kesehatan 

Masyarakat Maluku Utara terkenal doyan dengan hidangan makanan serba tinggi kalori. Beberapa bahan makanannya tak bisa lepas dari bahan tinggi karbohidrat, protein, gula, dan minyak. Sebut saja teh dan kopi manis, hingga hidangan kue tinggi kalori yang tak bisa lepas dari tiap rutinitas ritual masyarakatnya. Di bulan Ramadhan, aspek kesehatan dapat terbantu dengan adanya penahanan konsumsi bahan tersebut.

Sebut saja Diet, manajemen gizi, dan manajemen fungsi tubuh (Fisiologis). Untuk diet, para penyandang kegemukan (Obesitas) otomatis melakukan tahanan asupan tinggi kalori dan gula. Penurunan berat badan serasa berarti dengan adanya ‘Puasa’ atau dalam Islam dimaknai dengan pembatasan jadwal makan dan minum pada waktu tertentu. Dengan jeda makan di subuh hingga sore hari, tubuh dapat memperoleh asupan kalori dengan jumlah sedikit. Bila ditunjang dengan olahraga jelang buka puasa, tentu mustahil untuk kalori dan lemak tertimbun karena metabolisme yang berlangsung panjang di bulan puasa akibat tahanan jeda makan.

Sejak hadirnya usaha makanan siap saji (Junk food) luar negeri, masyarakat Maluku Utara tak bisa lepas dengan kebiasaan konsumsi makanan ekspor tersebut. Namun hal itu dapat diuntungkan dengan penerapan menejemen gizi yang baik, di saat bulan puasa. Masyarakat Maluku Utara sering mengurangi kebiasaan makan di luar. Mereka jauh lebih memilih makan di rumah bersama keluarga dengan hidangan lokal. Pada momentum ini, tubuh sebenarnya dapat mengistirahatkan diri dari asupan Junk food yang syarat akan tinggi Low density protein (LDL) / kolesterol jahat.

Kolesterol LDL biasanya didapatkan dari makanan penggunaan minyak berulang seperti jajanan junk food, gorengan dan ayam lalap yang dijual banyak di tepian kota pada umumnya. Konsumsi buah-buahan sangat membantu agar nutrisi tubuh kembali normal dengan adanya kandungan vitamin yang tercukupi dibandingkan makanan tinggi protein dan lemak yang didapat di luar rumah. Sebagian masyarakat gemar mengkonsumsi Kurma sebagai makanan pembuka yang terbilang tinggi dan bagus akan nilai gizinya.

Sedang manajemen fungsi tubuh, di bulan puasa, tubuh dapat beristirahat dengan baik karena kurangnya aktifitas serta akumulasi zat makanan yang berlebih. Kurangnya aktifitas ini dapat menjaga fungsi otot, tulang dan sendi bagi para pekerja berat maupun bagi para lanjut usia. Olehnya itu aktifitasTidur dan mengurangi aktifitas lebih masih jaug lebih baik dibanding beraktifitas lebih (Kerja fisik berat) di bulan puasa. Selain diet, gizi, dan manajemen fungsi tubuh, ada hal menguntungkan pula dalam kesehatan psikiatri (ilmu jiwa), puasa dapat menekan faktor stres yang signifikan. Dr.Sabar Al-Baqir dari Fakultas Kedokteran King Saud melakukan penelitian tentang Hormon Prolaktin, Insulin, dan kortisol pada 7 sampel laki-laki bahwa pada bulan puasa. Hasilnya, hanya hormon stress (Kortisol) tak mengalami perubahan signifikan.

Aspek Sosial

Di bulan ramadhan, masyarakat Maluku Utara lebih banyak meluangkan waktu dengan keluarga dan para sahabat. Selain itu banyak kegiatan kelompok yang dilakukan di bulan ini yang dapat meningkatkan nilai-nilai kekeluargaan. Sebut saja, kegiatan buka puasa bersama baik keluarga maupun sahabat, reuni angkatan pendidikan dan angkatan kerja, bahkan hal itu dilakukan dengan masyarakat. Hal ini sangat baik dalam meningkatkan efek mood dan kebahagiaan seseorang, olehnya wajar bila Maluku Utara baru-baru ini diganjar dengan penilaian masyarakat dengan index kebahagiaan tertinggi di Indonesia oleh Badan Pusat Statistik (BPS) dengan pencapaian 75,68 % di tahun kemarin (2017).

Selain suatu usaha kekeluargaan banyak hal positif yang dapat dilakukan dalam meningkat hubungan sosial dengan usaha-usaha sosial lainnya. Menyantuni para fakir miskin, penyandang cacat, dan kaum jompo dan usaha lainnya dapat membantu menstimuluskan energi positif dalam diri sebab dapat meningkatkan kualitas sosial seseorang di tengah masyarakat dan kenyamanan spritual tersendiri. Di sisi lain kegiatan yang bersifat maslahat (Kebaikan) tentu menekan faktor stress tubuh dari perasaan penarikan diri dari sosial dan kecurigaan berlebih dalam kehidupan. Di sisi psikiatri, hal ini dapat terhindar faktor pencetus depresi dan paranoid (kecurigaan berlebih).

Kaum muslim dituntun untuk dapat mengendalikan diri dari kemudharatan (Hal-hal yang buruk) di bulan ini, tingkat kejahatan menurun drastis, dan akifitas masyarakat yang dapat terkendali secara agamis sangat meringankan kerja pemerintah khususnya TNI/POLRI dalam kontrol tindak kejahatan dan persengketaan dalam ranah sosial di sebuah komunitas masyarakat. Aktifitas malam hari tentu berbeda dengan malam-malam lainnya yang syarat akan kekhawatiran masyarakat terkait kerawanan keamanan di malam hari. Aktifitas Shalat Tarawih dan rutinitas Tadarus di jam malam membuat lingkungan begitu ramai dan mendapat perhatian khusus dari masyarakat.

Rutinitas ekonomi dan pelayanan publik baik pasar dan pertokoan menambah jam kerjanya dalam melayani masyarakat hingga larut malam. Ini tentu hal yang menguntungkan bagi masyarakat umum kaum muslim di bulan ini. Di Maluku Utara, terlebih di bulan Ramadhan, aktifitas malam masih terlihat ramai hingga memasuki jam Sahur. Selain kegiatan agamis, aktifitas sosial dan gesitnya para usaha kuliner senantiasa masih setia menyediakan hidangan sahur bagi masyarakat muslim yang mencari menu hidangan memenuhi ibadah puasanya. Maluku Utara tak hanya memainkan aransemen kenyamanan masyarakatnya melainkan berhasil memenuhi kebutuhan masyarakat kaum muslim sehari penuh.

Aspek ekonomi

Dua hal yang baik di bulan Ramadhan pada segi ini yakni manejemen keuangan dan usaha kreatif. Di bulan Ramadhan pengeluaran tentu tak sama dengan bulan lainnya. Anggaran belanja di bulan lainnya biasanya tinggi karena melibatkan belanja makanan untuk pemenuhan nutrisi pagi, siang, dan aktifitas kerja lainnya. Sebaliknya di bulan Ramadha, kita diuntungkan dengan pengeluaran anggaran makanan yang minim. Ini tentu membuka peluang untuk kita dapat membatasi dan menyegarkan kembali transaksi keuangan kita di bulan ini dengan tidak meninggalkan anggaran belanja makanan yang jauh lebih murah selama kegiatan puasa berlangsung.

Tentang usaha kreatif, tingkat belanja bahan makanan untuk penyiapan ritual buka puasa dan sahur di bulan Ramadhan tentu tinggi di tengah masyarakat muslim. Seperti masyarakat kota tentunya berpikir untuk dapat ke pasar menyiapkan bahan makanan mentah guna diolah memenuhi menu buka puasa maupun sahur. Masyarakat gemar membeli hidangan jadi seperti jajanan jalan untuk menu buka puasa di banding mengolahnya. Seperti beberapa daerah di Maluku Utara sebut saja Ternate dan Tidore, di sela jam sore, masyarakat sudah memadati pasar kuliner seperti di kawasan fala jawa, dan pasar tradisional (Ternate), dan Pasar Sarimalaha (Tidore), semua hadir membelanjakan beberapa jenis kue memenuhi hidangan buka puasa keluarga di rumah.

Di saat tingginya konsumen memenuhi pemenuhan makanan tersebut. Hal itu tentu memiliki peluang ide membuka usaha jajanan kuliner yang dapat membantu kerisauan masyarakat akan kebutuhannya. Usaha kuliner Ramadhan takkan pernah mengalami kerugian sebab masyarakat sangat bergantung pada makanan cepat saji. Selain membantu masyarakat, pundi keuntungan hasil jualan dapat diraih dalam momentum ini. Masyarakat diperhadapkan dengan peluang usaha bagi mereka yang memiliki jiwa enterpreunership (kewirausahaan) bila mereka berminat dengan peluang itu.

Pasar kian memahami kebutuhan masyarakat dengan meringankan tingkat harga bagi masyarakat di bulan ramadhan. Potongan harga akan kebutuhan primer kian terasa. Pemerintah tentu berusaha menjaga ketat kenaikan harga yang membabi buta, di sisi lain, pasar memberikan promo potongan harga bagi penyediaan sandang (Pakaian). Pakaian murah mudah didapatkan bagi masyarakat kecil demikian sembako pada daerah-daerah yang menetapkan kebijakan itu. Pada momentum idul Fitri, di Maluku Utara ada budaya khas di mana masyarakat sering berbelanja pakaian hari raya. Pasar memberikan dukungan itu dengan melabrak hukum permintaan ekonomi untuk menguntungkan bagi kedua belah pihak. Produk disedikan, dan harga ditekan di saat momentum guna menjamin lakunya penjualan produk bagi para konsumen dari seluruh pelosok daerah.

Aspek agama (Islam)

Pada sisi agama tentu tak bisa dikesampingkan. Kita berbicara soal islam. Dalam kitab sucinya (Al Quran), Allah SWT telah mewajibkan puasa bagi kaum muslim di bulan Ramadhan, bulan dimana Al Quran pertamakali diturunkan kepada umat manusia. Olehnya kepatuhan tersebut tak dapat ditimbang maupun dibantah oleh kaum muslim sebagai bentuk ketakwaan terhadap Tuhannya.

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur”. – Al Baqarah 185

Dalam Islam, suatu kewajiban yang diperintahkan oleh Tuhan (Allah SWT) bermakna pahala. Siapapun yang menjalaninya akan diganjar pahala langsung dari Allah SWT. Sedang dalam Islam pahala adalah suatu poin yang terakumulasi untuk dipertimbangkan kelak oleh Allah SWT sebagai jaminan untuk masuk Syurga. Sabda Hadist Rasulullah Nabi Muhammad SAW telah membenarkan.

“Barangsiapa yang berpuasa ramadhan karena iman dan ikhlas mengharap pahala dari Allah, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”. Hadist riwayat Abu Hurairah R.A / Imam Bukhari (38).

Bulan ramadhan merupakan suatu momentum baik bagi kaum muslim untuk kembali memperbaiki diri, mengevaluasi diri, dan menyelesaikan setiap masalah / urusan yang dinilai memiliki nilai dosa atasnya. Olehnya umat muslim sangat bersuka cita dalam mengharapakan fitrahnya, fitrah sebagai masyarakat madani tanpa kemudharatan.

Maluku Utara, masyarakat madani

Sudah 19 tahun masyarakat Maluku Utara mengenang krisis kemanusiaan dan SARA. Kerusuhan yang terjadi pasca reformasi di tahun 1998 membawa duka tersendiri bagi masyarakatnya. Namun melihat ke depan, provinsi yang telah terbentuk pada tahun 1999 itu kini telah berubah 180 derajat. Masyarakat Maluku dan Maluku Utara telah bangkit dan berhasil menata peradabannya dengan baik.

Maluku Utara kian dikenal sebagai negeri masyarakat Madani (Beradab). Agama tak lagi menjadi bias perbedaan. Agama sudah menjadi suatu privasi antar hubungan masyarakat dengan sang pencipta dan suatu kesadaran akan eksistensi hidup seseorang akan ciptaan Tuhannya. Masyarakat Maluku Utara kini telah berubah. Masyarakat kian sadar akan betapa pentingnya perdamaian dan serius membangkitkan kembali nilai-nilai budaya yang hilang. Di sisi lain masyarakat telah sadar dan menjaga nilai pluralisme, serta aktif mempromosikan kearifan lokal (Budaya) hingga kian dewasa membuka pintu bagi masyarakat luar dan investor untuk hadir kembali bersama membantu negeri ini keluar dari garis kemiskinan.

Di bulan Ramadhan, masyarakat menyadari bahwa banyak aspek yang dapat didapatkan dari bulan Ramadhan. Meningkatnya kualitas kesehatan, sosial, agama merupakan nilai plus bagi masyarakat, khususnya umat islam di tiap momentum bulan suci ini selama setahun sekali. Pemerintah pun telah membantu menyediakan ruang bagi masyarakat untuk mendapatkan segala aspek itu, sisa bagaimana masyarakat menggunakan modal aset tersebut di saat momentum berlangsung.

Maluku Utara adalah negeri yang diapit sumber daya alam dan kawasan yang menguntungkan. Sebuah tempat yang indah bak sebuah hadiah Tuhan bagi masyarakatnya untuk menikmatinya. Dalam Islam, Quran sudah secara logika mempertanyakan kesyukuran itu pada umatnya (Islam) secara berulang. “Maka, nikmat Tuhan manakah yang engkau dustakan ?” — Quran : Ar Rahman (55). Semoga kita masih menjadi masyarakat yang selalu bersyukur.(*)

Penulis : Fatir M (Kru Jalamalut)

Baca Lainnya