Cerpen SASTRA

Jumat, 26 Januari 2018 - 17:42

2 tahun yang lalu

logo

BALINDINA

NYALANG mata surya tak membuatnya takluk. Langkahnya pasti, mengetuk pintu rumah para borju, menawarkan jasa mencuci. Di bulan yang temaram dan gemerlapnya lampu-lampu kota, sang puan kembali berjibaku dengan gincu merah basah membaluri bibir tipisnya. “Ketika mati, kita bahkan tak mampu melerai binatang tanah melahap habis tubuh ini. Lantas untuk apa disakralkan?” Dia menggugat. Hidup memang kejam ‘tuk Balindina, perempuan paruh baya yang menjadi bulan-bulanan massa atas nama. Ia terpaksa menjalani perawatan intensif di rumah sakit, bahkan harus menjalani dua kali pembedahan akibat terjadi penggumpalan darah pada otak.

Razia dadakan yang dilakukan oleh gabungan Satpol PP dan kaum fundamental yang meng-aku sebagai Pembela Tuhan telah menghinakan kemanusiaan Balindina. Ia terkena pukulan tameng dari salah seorang anggota Satpol, serta hantaman tinju dari perempuan yang tak lupa menyerukan nama Tuhannya saat menghajar Balindina dengan ekspresi marah dan jijik. Dihimpit perasaan malu, takut, dan sakit hati memaksa Balindina berlari menghindar dari kerumunan dan tindak kekerasan yang terus mengejarnya. Ia terus berlari lalu membatu sesaat di garis putih jalan raya. Ia pun kaget saat sebuah mobil dengan kecepatan tinggi sudah berada beberapa sentimeter di depannya. Sedan hitam berplat nomor dengan inisial DG itu lalu menghantam tubuhnya hingga terhempas beberapa meter ke depan. Balindina pun terkulai lemas dan berlumur darah di atas badan aspal.

Ketika diminta keluar dari ruang ICU oleh dokter karena akan dilanjutkan beberapa prosedur pengobatan, Balindina sempat menyerahkan sebuah buku catatan kepadaku. Lalu dengan suara parau yang tersekat di tenggorokan dan derai airmata yang tak tertahan, ia berujar pelan.

“Perempuan mana yang dilahirkan dan bercita-cita menjadi pelacur? Tidak ada bukan? Ya, karena semua orang ingin hidup dengan terhormat, begitu juga dengan saya,” ujarnya panjang terbata. Terhormat? Mengapa kata itu begitu menyakitimu hingga harus berurai airmata dan mengalami pembalasan seperti saat ini? Seperti apakah orang-orang terhormat itu hingga kau merasa menjadi hina, wahai puan?

Hari ini aku bagai terhempas jatuh, tanpa ada ranting untuk bergelantung.

Dan kini mencapai jurang pesakitan.

Dosa kemarin, hari ini kutemukan jawabnya.

Tangis tak mampu beri jawab, namun diammu menjawab perihku…

 Setelah membaca rentetan bait-bait mendalam itu,  kupalingkan tatap pada Balindina yang tak berdaya, terkulai pasrah seraya merintih menahan sakit ketika beberapa luka pada tangan dan kakinya dijahit. Di balik sekat kaca, pandanganku melekat pada perempuan 35 tahun yang mengaku dinikahkan sejak berusia 15 tahun, setelah sebelumnya dipingit selama tiga tahun.

Ingatan pun melanglang pada awal perkenalanku dengannya beberapa tahun silam. Pada medio 2006, aku bertemu Jatu, gadis lima tahun yang lucu nan manis. Saat itu, aku dan teman-teman sering sekali mengamen di pusat kota, guna menggalang dana untuk organisasi kami atau untuk para korban bencana alam dan sosial. Sementara Jatu merupakan satu dari sekian puluh pekerja anak di kota ini. Selain mengemis, ia juga menjadi tukang tutup sadel motor pengunjung pasar malam. Pekerjaan itu dilakukan dengan hanya bermodalkan potongan-potongan kardus bekas mie instan, air kemasan, atau produk pabrikan lainnya. Jatu kerap tertidur pulas di atas trotoar jalanan tempatnya bekerja, hanya dengan beralaskan alat kerjanya: kardus. Langit pun bersaksi, ia kerap mengais sisa makanan para pengunjung warung di sekitar tempat kami bekerja. Miris. Sejauh ingatanku, para penguasa daerah ini sering berujar lantang bahwa tak ada kemiskinan di sini, yang ada hanyalah orang-orang malas yang tak mau memanfaatkan sumber daya alam yang berlimpah. Benarkah demikian? Malaskah orang tua gadis kecil ini? Masih bisakah air dan tanah itu kami manfaatkan?

Beberapa bulan kemudian, pada tahun yang sama, kami berpindah sekretariat ke salah satu ruangan yang ada di barak pengungsi. Alasan utama kami memilih tempat ini untuk mengurangi beban biaya organisasi untuk pengadaan sekretariat. Selain itu, “kita juga dapat mengorganisasi para pengungsi yang ada di sini,” begitu kata seorang kawan yang tampak heroik.

Tempat pengungsian ini telah ada sejak awal tahun 2000, saat konflik SARA yang dilatarbelakangi oleh kepentingan politik dan ekonomi mewarnai beberapa kabupaten/kota di daerah ini. Kepentingan kekuasaan dan masuknya investasi skala massiv yang disinyalir menciptakan kejahatan atas nilai-nilai kemanusiaan ini. Pasca itu, urbanisasi mengalir deras dan terjadi pemiskinan struktural. Keberagaman pun terusik. Warga dihasut untuk saling bunuh demi pengakuan atas kebenaran dogmatik, perempuan dilecehkan dan diperkosa dengan justifikasi atas nama. Ketika mereka tersadar, di atas tanah leluhurnya bolduzer telah meraung dan menggilas habis pala, cengkeh, dan kopra, yang kemudian berganti tambang emas tuan Newcreast. Pada akhirnya, nelayan kehilangan wilayah tangkap akibat tercemarnya kawasan laut; petani tak lagi berkebun karena tanahnya dikapling untuk kepentingan ekspansi modal; dan perempuan menjadi objek pemuas libido sang tuan-tuan berdasi yang datang ‘bertamu’. Tak cukup dengan semua duka akar rumput yang kian tercerabut dari tanahnya tersebut. Enam tahun hidup terlunta-lunta di kota ini, para pengungsi belum lagi dikembalikan ke daerah asal dengan berbagai alasan: mulai dari tidak ada lagi anggaran, hingga dugaan kasus korupsi yang melibatkan dinas dan pemerintahan terkait, yang vonis pengadilan membantah semua tuduhan tersebut.

Selanjutnya, kami tinggal bersama-sama dengan para pengungsi di sini. Terdaftar sebagai penghuni barak yang jorok dan menjijikan itu. Ketika hujan mengguyur, air selokan di dalam dan sekitar barak meluap, sehingga banjir air bercampur sampah pun tak terelakkan. Tentu saja disertai bau busuk yang sangat menyengat.

Jatu dan keluarganya adalah pengungsi yang kebetulan bermukim di barak pengungsian tempat sekretariat kami berada. Ayahnya seorang buruh angkut di pelabuhan, dan ibunya berprofesi sebagai ibu rumah tangga dan buruh cuci. Berdasarkan informasi dari Jatu, ibunya sering keluar di malam hari bersama lelaki lain. Jatu memiliki dua saudara laki-laki, yang tua terpaut empat tahun dengannya dan yang kedua berusia tujuh tahun. Dia juga memiliki saudara perempuan yang usianya berkisar 16 tahun dan berprofesi sebagai  pekerja seks, “kakak itu lonte,” ungkap Jatu polos.

“Kenapa tidak pindah dari sini, bu?”

“Kita harus pindah ke mana? Buat makan saja, aku harus menjadi buruh cuci di rumah-rumah, membantu bapak yang hanya buruh kasar. Sementara membayar uang sekolah anak-anak saja sudah susah,”

“Kenapa tidak kembali ke kampung? Di sana ibu dan bapak kan punya kebun?”

“Di sana tak ada lagi kebun, tanah, dan harta kami. Semua telah dijual ke tambang emas yang sedang beroperasi,” jawabnya seraya berjalan masuk ke baraknya.

Ketika tengah menerawang pada kenangan pertama kali bersua dengan sang puan, tiba-tiba jerit kesakitan dari ruangan Balindina dirawat mengagetkanku. Perempuan itu menjerit dan meringis melawan sakit. Sakitmu tak berkesudahan, wahai puan. Batin menyiksa oleh sebab mereka yang gemar bersasus. Kejahatan berkedok moral telah menempatkanmu pada jurang nista, sementara fisik teraniaya akibat dogma tak berperi.

Ketika nilai keperawanan menjadi ukuran kesetiaan dan kepercayaan.

Ketika perbedaan sentimeter pada vagina menjadi momok bagimu.

Saat itu juga aku memilih berhenti.

Biarkan jika berlalu, kuyakin senja esok akan menenggelamkan rasa itu jua…

 Kedua orangtua Jatu seringkali bertengkar, yang dipicu oleh maraknya kabar burung di tengah para tetangga tentang “profesi” sang istri. Jatu berlari memelukku dengan tubuh gemetar ketika pertengkaran itu terjadi.

“Kak, Jatu takut kak. Papa pukul mama…,” ujarnya dengan isak tangis tak henti.

“Iya sayang, ayo kita ke tempat kakak e…,” jawabku, sambil menggedongnya masuk ke sekretariat.

Sejak malam tragis itu, ayah Jatu tak lagi pulang ke rumah. Bahkan sasus yang beredar menyatakan laki-laki bernama Benga itu sudah berada di seberang pulau. Ibu Jatu masih saja dengan aktivitasnya: menjajakan tubuh pada para lelaki hidung belang yang tak pernah puas dengan pemenuhan libido dari sang istri. Namun penghakiman sosial hanya diterima sang ibu, karena dianggap amoral, sementara para lelaki itu berlenggak-lenggok puas, terlelap pulas, dan terbebas dari segala stereotip.

 

Kau adili aku karena vaginaku

Kau kafirkan aku karena kebebasanku

Apakah kemerdekaanku membelenggu kebebasanmu?

Aku bahkan tak menuntut waris, apalagi hartamu!

Kau melecehkanku karena bajuku tak sopan menurutmu.

Kau, kekerasan adalah pelanggan setiaku,

ketika tubuhku kau anggap biangkerok kemerosotan nilai.

Sering pula kau sebut aku nakal, karena menentang dan memberontak.

Kau paksa aku mengikut pada perintah, walau batin tetap tersiksa.

 

 Balindina, perempuan paruh baya itu adalah ibunda Jatu. Perempuan yang diadili nakal dan binal, distigma sebagai sampah masyarakat, dihakimi sebagai manusia tak bermoral. Semua label itu melekat padanya, sebab perempuan setengah renta itu senantiasa menerobos langkah di paruh malam yang tak berdetik, mengais rupiah dari para pelanggan di atas ranjang reyot, di dalam bilik tak beratap, hanya demi mendapatkan ganjalan perut si buah hati.

“Bagaimana dengan sekolah Jatu dan saudara-saudaranya, bu?” tanyaku pada suatu kesempatan ketika gerimis menyertai.

“Entahlah… Sekarang tubuhku sudah tak lagi ‘laris’ di pasaran. Mau tak mau, aku harus menjadi buruh cuci yang upahnya tak seberapa, jadi aku tak punya simpanan untuk kembali menyekolahkan mereka,” jawab Balindina sembari tatapannya menerawang entah ke mana. “Kalaupun ada yang bersedia merawat mereka, aku ikhlas melepaskan. Lagi pula jika terus bersamaku, mereka akan terlantar dan menjadi anak-anak gembel di jalanan,” lanjutnya dengan mata berkaca.

…Ibuku sayang… masih terus berjalan

Walau tapak kaki… penuh darah, penuh nanah…

Tembang Iwan Fals: “Ibu”, yang didendangkan sejumlah pengamen jalanan itu, seketika memecahkan kesunyian batin. Sayang, banyak ibu terus tenggelam dalam duka hidup. Keceriaan seakan tak sudi baluri nurani yang terkoyak oleh kejamnya zaman. Di mana pun kaki berpijak, hanya duka dan airmata yang menghuni siang dan malam mereka. Perempuan-perempuan itu terdepak pada peradaban kotor hari ini.

Di semenanjung pantai, oopsss… salah! Maksudku di sepanjang reklamasi pantai ini, ia lemparkan pandang jauh ke arah mentari yang mulai condong ke barat, pertanda senja mulai menyapa. Di sana, lembayung tak lagi indah tanpa lambaian nakal dari nyiur-nyiur khas pesisi, sebab laut telah ditimbun untuk datangkan surplus. Di seberang pandang, robot-robot tengah asyik melangkah kaki ke kawasan mall yang dibangun di atas pengeringan laut ini. Terumbu karang tertimbun tanah dan aspal. Ikan-ikan pun melanglang jauh mencari habitat baru, selayak Balindina yang merantaukan nasib pada kota, sebab ruang-ruang di kampung telah tergusur eksavator. Mulutnya hanya mampu bergumam karena tersekat di radang yang semakin menua, akibat nikotin yang terus saja disuplai ke sana. Di tempat inilah Balindina meluapkan sesak di dada, setelah larut merasakan sakit terus terhimpit dan menempel pada tembok-tembok raksasa Sang Tuan. Dia yang berusaha terus merayap, walau serdadu berlaras masih saja mengokang senjata. Dan, para lumut senantiasa tersapu jua…

“Aku memang telah ‘noda’ oleh jamah banyak lelaki. Namun hingga detik ini, aku hanya mampu mencintai seorang lelaki. Aku rela menjajakan tubuh untuk mengurangi bebannya mencari nafkah. Aku telah hina dan sangat berdosa. Aku bukan ibu yang baik untuk anak-anak, tapi cintaku untuk mereka jauh lebih dalam dari yang mereka tahu. Biarlah mereka membenci ibu yang nista ini, tapi cinta tetap tertanam di sini,” tutup Balindina sembari menunjuk ke dadanya, bersamaan dengan setetes airmata yang mengairi pipinya yang mulai keriput. Pada saat bersamaan, dokter yang merawatnya menghampiri kami dengan ekspresi wajah tertekuk. Tak ada lagi harapan. Hidupnya akan segera berakhir, sebab Tuhan telah dibela dengan menumpahkan seluruh darahnya.

Lembar terakhirpun kubaca dengan penuh keyakinan, bahwa kau perempuan yang terus menggenggam erat mimpi dan cita-cita besarmu, yang terlanjur tersimpan dibalik bantal, namun tak pernah surut walau sekejap jua. Kau sulutkan mimpimu pada orang-orang yang menistakanmu dengan miskinmu, memiskinkanmu karena ‘nistamu’. Tapi cahaya senantiasa mengikut gerak langkahmu di balik bayang gelapnya malam. Kau tak pernah redup, apalagi padam.

Hei… Aku perempuan!

tak lagi meratapi nasib terpasung dalam lembagamu.

Aku tak lagi takut pada malam, apalagi pada sasusmu yang mengungkung.

 Aku bebas mengarungi hidupku

tanpa belenggu, jua tanpa pasung!

Sebab aku bukan belia yang patut awas.

Aku, sebagaimana juga kau, adalah semesta.

Sungguh tragis perjalanan hidupmu, Ibu. Jika kau adalah pendosa, lantas sucikah mereka yang menyerangmu dengan stigmatisasi, stereotip, dan intimidasi? Auliakah mereka yang mengatasnamakan agama untuk menghakimimu? Surgakah bagi mereka yang memiskinkanmu, bahkan membunuhmu dengan keji atas nama aqidah? Sementara sebagian mereka terang-terangan bercumbu dan bergumul dengan kelaliman.

Kau perempuan, di paruh malam tak berdetik. Tersenyumlah, karena cintamu lebih suci dari mereka yang berpura-pura dalam limpahan kemewahan. Terbahaklah, karena masih banyak pendosa tiran yang selamat dari penghakiman sosial, sebab titah kuasanya masih langgeng di negeri ini. Berbahagialah, karena mereka yang terus memberakimu demi kenyamanan kelamin akan segera tenggelam bersama ketamakan pada tahta. Kau percaya bahwa Ilahi tak pernah lelap atas lukamu. Dan kami percaya bahwa api yang membaluri mimpimu akan membakar setiap helai rambut dan jengkal tubuh mereka. Peluk kami untukmu, Ibu dari anak zaman yang mengais sisa-sisa sang tuan, yang meringis di bawah panji merah-putih..

Penulis: Astuti N. Kilwouw

Baca Lainnya
  • 27 November 2018 - 08:43

    Gua Ayah