Mengenal Hutan Perempuan Engros

Kicuan burung di tengah hutan bakau seakan menyambut kedatanganku, saat saya menaiki sampan lewat jalur sungai memasuki hutan. Masyarakat adat Engros menyebutnya “Hutan Perempuan”

Meski akses ke sana sangatlah berkelok-kelok, gerak sampan tenang membelah air menelusuri setiap liku hutan itu, tak jarang pula saya menemui habitat biota laut yang menghuni hutan dengan perkiraan luas sekira 20 hektar.

Saat memasuki hutan bakau, saya melihat dua orang ibu sedang beraktivitas di sungai,di samping sampan mereka terlihat sesekali menyelam ke dasar sungai yang kecoklatan itu, meraba-raba bia (kerang). Saya pun menyapa dan saling kenalan. Mereka adalah Mama Bertha dan Mama Paula.

Aktivitas mereka mencari bia sudah sejak lama mereka geluti. Bahkan nenek moyang mereka telah melakukan hal yang sama. Hal itu masih terus dipertahankan hingga kini. Dalam seminggu, keduanya menyambangi Hutan Perempuan; tiga sampai empat kali, hanya untuk mencari bia, kepiting, udang, dan bahkan kayu bakar.

“Bia yang saya dapat, sebagian untuk bahan santapan keluarga saya. Sebagiannya saya jual untuk biaya pendidikan anak-anak saya,” kata Bertha, perempuan dengan 9 cucu ini. Sambil bercerita, terlihat kakinya fokus meraba keberadaan bia.

Bertha berkisah, sejak masih gadis, ia selalu mengikuti ibunya ke hutan Perempuan untuk mencari bia guna memenuhi kebutuhannya.

Tak hanya mencari lauk di hutan itu, mereka, para perempuan Engros menjadikan tempat tersebut sebagai selaga keluh kesah. Di sana, berbagai macam rahasia perempuan diceritakan bersama.

“Selain mencari bia, saya dan perempuan lainnya cerita soal masa muda kami, cerita masalah keluarga dan apa yang kami ceritakan hanya berhenti di Hutan Perempuan. Kami tidak membawa cerita itu ke rumah bahkan hingga ke kampung,” ucap perempuan baruh baya itu.

Sebagai perempuan Engros, Bertha masih menjaga nilai-nilai budaya setempat. Di mana saat mencari bia maka mereka tanpa menggunakan busana dan laki-laki tidak diperbolehkan masuk ke dalam hutan tersebut, jika masuk akan dikenakan sanksi adat.

“Mencari bia tanpa menggunakan busana memudahkan saya, dan saat air laut surut waktu yang tepat bagi saya untuk mencari bia,” katanya.

Kepala Kampung Engros sendiri mengatakan, Hutan Perempuan adalah salah satu hutan yang ditetapkan oleh prinsip adat terhadap perempuan Engros. Terkait penamaan Hutan Perempuan sendiri karena, ketika perempuan dewasa memasuki hutan tersebut tanpa menggunakan busana, dan lelaki dilarang masuk ke hutan ini.

“Jika laki-laki sengaja masuk ke Hutan Perempuan saat dimana perempuan sedang mencari bia, maka akan dikenakan sanksi hukum adat,” ucap lelaki bertubuh besar ini.

Untuk sanksi sendiri berupa denda maaf dan denda adat yang akan diproses, tergantung perbuatannya apakah ada unsur kesengajaan atau ketidaksengajaan. Di hutan dengan luas sekitar 20 hektar itu, menjadi tempat berkumpulnya perempuan yang berasal dari Kampung Engros sendiri, sedang perempuan yang berasal dari daerah lain tidak diizinkan untuk masuk hutan.

“Dari sisi adat, hanya perempuan Engros-lah yang berhak memasuki hutan tersebut. Jika kedapatan ada perempuan lain selain dari Kampung Engros maka itu akan dipertanyakan,” tuturnya.

Namun yang menjadi keprihatinan saat ini, sebagian pohon di Hutan Perempuan mulai ditebang atas nama pembangunan, padahal hutan tersebut dirawat dan dijaga olah masyarakat setempat. Tentu hal ini sangat disayangkan.

“Selain pohonnya ditebang, sampah milik masyarakat banyak terdampar di Hutan Perempuan, terutama sampah plastik yang menyulitkan perempuan mencari bia. Bahkan terkadang mereka menangis karena sulit menemukan bia akibat tumpukan sampah,” keluhnya.*

Penulis: Elfira Halifa

 

 

Views All Time
Views All Time
426
Views Today
Views Today
3
Like

Tinggalkan Balasan