Ketika Jantung Pasar Bastiong “Membisu”

Takbir malam menggema. Disambut cuaca mendung yang tak menduga, warga masyarakat kota penuh asa tetap menyambut suka cita hari raya Idul Adha di esok harinya. Sepanjang jalan raya riuh dengan kendaraan yang sibuk menikmati malam penuh makna di timur kota tua nan bersejarah ini. Ternate, kota madani pluralis yang menggores namanya di sutra sejarah abad ke-14 silam. Suka cita itu ini tak begitu lama, raut wajah kawula muda yang mencuri waktu berkendara asmara berubah penuh kesal kala derasnya hujan mengguyur sepanjang jalan di tepian Traffic light pertigaan Jalan raya kelurahan Bastiong yang kian basah.

 

Harum rempah di pinggiran kota

Menyusuri ke arah selatan jalan di pertigaan traffic light ini, kita memasuki kawasan strategis di kelurahan Bastiong yang kita jumpai Terminal, pelabuhan dan pasar yang bersatu dalam satu kawasan unik di bibir pinggiran kota. Memasuki kawasan itu, sepanjang jalan kawasan dibalut Ruko (Rumah toko) yang masih dapat ditemui aktifitas pedagang pulsa, Apotik, bahkan kios grosiran sepanjang jalan menuju ke sana. Kecuali pedagang lapak tradisional yang masih tersisa mengemas sisa dagangannya menyambut takbir hari raya Idul Adha di malam ini. Bila menengok ke arah beberapa jam lalu, tepatnya di pagi hingga sore hari, di tepian terminal ini ramai dihuni para pedagang lapak tradisional yang biasanya menjajakan sayuran, daging dan bumbu rempah dapur yang melimpah ruah. Warga Ternate Selatan hampir menggantungkan kebutuhan dapurnya di sini. Sayang, mustahil kita temukan aktifitas itu di malam hari. Sejak pagi hari inilah, masyarakat Ternate dan Tidore berlalu-lalang melewatinya kawasan ini sembari menuju pelabuhan penyeberangan menuju pelabuhan Rum-Tidore, maupun sebaliknya.

 

Lorong gelap penuh misteri

Beda siang, beda pula malam. Dari kejauhan, sepanjang lorong terminal dan pasar sudah terlihat tampak kegelapan, beberapa lampu di padamkan, pertanda aktifitas masyarakat pasar telah berakhir. Di pinggiran terminal, secangkir kopi hitam pekat mendenting lembut memaksa suasana malam terhibur dengan guyonan ‘gagarap’ (baca: lelucon khas Ternate) para warga yang menikmati takbir malam di tepian pasar tua itu. Namun suatu pemandangan yang tak biasa terlihat di sudut lorong kecil arah barat ruko yang terlihat gelap dari kejauhan. Tampak masyarakat berlalu-lalang di lorong itu seraya membuat penasaran oleh berbagai muatan belanja yang dibawa dari keluar dari jalan gelap itu.

Waktu telah menunjukkan pukul 22.00.WIT. waktu yang cukup larut dan mustahil bagi aktifitas pasar di sana. Kemana jalan itu berakar ? entahlah. Kaki melangkah masuk menelusuri lorong itu, beberapa kios kecil dengan pintu dan jendela papan berlapis kayu telah terkunci terbalut rantai berukuran ibu jari menutupi sela-sela pintu kios pertanda tak ada lagi layanan penjualan yang dilayani. Mustahil para pedagang di waktu yang selarut ini memenuhi kebutuhan masyarakat untuk esok hari (Lebaran). Apalagi di tepian pasar, tak satupun pedagang sayur bahkan daging yang kita ditemui sepanjang jalan terminal dan ruko ini.

 

Takbir bisu di jantung pasar

Memasuki lorong itu, ruas lorong jalan yang tak terurus dengan berbagai tumpukan sampah yang berserakan menambah rasa penasaran aktifitas masyarakat di dalam sana. Dan benar, ternyata, mereka berkumpul di sini, di jantung ruko ini. Beberapa lapak jualan sayuran, daging, dan rempah ternyata masih terlihat beraktifitas. Teriakan khas tawaran dagang dengan nominal harga yang ditawarkan serta desingan mesin parutan kelapa masih terdengar hebat di telinga ini. Raut wajah yang lelah dan penuh keringat pun masih terlihat jelas mengalir di sekujur tangan yang lincah melayani tiap pembeli. Mereka rela tak menikmati syahdunya Takbir jelang Idul Adha demi memenuhi kebutuhan masyarakat yang datang dengan penuh harapan dengan berbagai catatan pembelian di tangan.

 

Fakta kelam komoditi

Pandangan tertuju pada seorang ibu tua yang sibuk melayani pembeli dengan kemampuan retorika uniknya yang luar biasa. Apa yang membuat konsumen tertarik padanya ? tentu menambah rasa tanya yang besar pula. Setelah ditelusuri, harga jualan yang disajikannya jauh lebih murah dibandingkan lapakan lainnya yang justu menaikkan harga 2 kali lipat mahalnya hingga membuat pembeli sedikit mual atas kondisi itu. Bawang merah, bawang putih, jeruk manis kecil dan satuan tomat yang  disajikannya dalam 1 porsi piring kecil ia patok seharga Rp.5000,-, berbeda dengan pedagang yang tepat di depannya yang justru menaikkan harga jualannya dua kali lipat (Rp.10.000,-) dari harga dasar yang ditawarkan. Bahkan sekelas 3 buah biji pala saja harus dihargai Rp.5000,- luar biasa fenomena ini. Semoga kelangkaan rempah di pasar ini tak melengserkan nama besar Ternate dalam sejarahnya sebagai negeri pasar rempah dunia ini di panggung sejarah.

 

Berjudi harga di malam Takbir

Persediaan daging khususnya ayam potong yang nyaris habis diseroboti para warga masih dapat tersedia di jantung pasar ini. Sesekali sang penjual menitipkan pesan pada kerabatnya yang liar mencari pembeli “Kalo dong tanya ayam, bilang ada di dalam e.. ayam masih masih ada..” ungkapnya penuh semangat. Takbir di luar sana bahkan tak mampu menembus dinding jantung pasar tersebut yang hanyut dalam riuhnya aktifitas dagang di dalam sana. Mereka yang menaikkan harga jualan, tentu berjudi dengan niat konsumen di pasar itu. Jelang Hari raya, pasar memang dipenuhi para pembeli bahan makanan. Strategi menaikkan harga jelang hari raya kerap selalu terjadi di pasar tradisional. Tentu prinsip ekonomi yang terbilang biasa ini sangat manjur bila tingginya kebutuhan masyarakat jelang lebaran bagi para pedagang dalam meraup keuntungan lebih. Semakin tinggi permintaan, tentu semakin tinggi pula harga barang yang ditawarkan.

 

Balutan sarung Pluralisme 

Pasar Bastiong memang telah dikenal lama, selain berada di pelabuhan penyeberangan Ternate-Tidore yang menawarkan jasa Speedboat dan kapal motor kayu yang melayani angkutan kendaraan roda dua, belum lagi jasa mobil sewa (rental) senantiasa standby di pelabuhan Bastiong melayani masyarakat yang membutuhkannya. Pelabuhan Bastiong ini sendiri dihimpit dua (2) pasar aktif. Sebelah timur pelabuhan berdiri pasar Ikan, sedang sebelah barat berdiri pasar tradisional yang diapit ruko berlantai dua (2) yang telah difasilitasi pemerintah guna pemodernan tata pasar bagi pedagang lokal yang berdagang di sana.  Di bagian tepi utara, para angkutan umum sepeda motor alias ojeg yang senantiasa melayani para penumpangnya. Di Pasar ini, rata-rata dihuni dan dikelola oleh mayoritas masyarakat etnis Bugis-Makassar dan minoritas daerah lainnya. Namun tidak demikian etnis pribumi, mereka dapat dikenali dengan karakter dan bahasa yang khas yang hadir menjadi minoritas warga di kawasan pasar. Di pasar ini juga lah kita temui warga etnis Jawa yang yang sangat semangat dengan jasa usaha kuliner yang disajikannya di malam hari. Sebut saja Sate ayam yang lezat, Ikan bakar yang gurih dan makanan lainnya yang tberada di lorong kedua atau lorong timur terminal menuju arah pelabuhan. Masyarakat pasar, buruh bahkan para penumpang sering ke sana menikmatinya.

Pasar Bastiong memiliki daya magisnya sendiri. Ia menyatukan dua jenis kelompok sosial pasar yang berbeda, (Pasar modern dan tradisional), belum lagi aktifitas aneka jasa angkutan umum yang unik turut melayani para pengunjung dan warga di pelabuhan tua ini. Bila dari pulau Ternate anda menyeberang ke Pulau Tidore melewati jalur pelabuhan Bastiong, pasar ini tentu tak asing kita temui dalam dua perpaduan aktifitas masyarakat pasar tradisional dan modern yang senantiasa bercumbu dalam balutan kemesraan sang waktu. (*)

 

Penulis: Fatir

Kru jalamalut.com

Views All Time
Views All Time
375
Views Today
Views Today
2
Like
1

Satu tanggapan untuk “Ketika Jantung Pasar Bastiong “Membisu”

Tinggalkan Balasan