Ketika Anak-anak Menampar Orang Dewasa

Orang dewasa selalu pandai dalam membuat masalah, sedangkan anak kecil selalu punya cara untuk memunggungi masalah tersebut, cara bagaimana keluar dari realitas yang terlampau beringas.

“sepanjang sejarah dunia, tidak pernah ada perang yang diciptakan anak-anak”, Dea Anugrah mengingatkan bahwa, laku yang terlalu serius yang kerjanya menyebar kebencian, semua itu hanyalah membuat anak-anak menjadi korban. Di Suriah sana, negeri yang sebetulnya indah dengan gaya kota yang seakan tak menggubris zaman, sekarang yang tinggal adalah tangisan, diciptakan oleh keangkuhan orang dewasa yang merasa diri paling paham tentang dunia.

Hal itu tak hanya terjadi di Suriah, bahwa peperangan hanya akan membuat keceriaan turut hilang, di manapun itu. Bagi Indonesia, walau tak serupa dengan Suriah yang berdarah-darah, akhir-akhir ini polusi caci-maki semakin menjalar kemana-mana. Setiap orang seakan paham pada semua hal hingga merebut tempat untuk bersuara, persetan dengan nalar dan logika.

Terhitung sejak pilpres, perseteruan nampaknya tak pernah sudah, urat leher menampilkan hukumnya, substansi tak dihiraukan, narasi yang membosankan terus didaur-ulang.

Media-media turut menyumbang angkara, menyulut kemarahan yang bertopeng keyakinan, entah itu pada negara atau pada agama, seluruh indera dipaksa memamah murka, entah pada televise, media cetak, hingga berita di gawai kita.

Kekisruhan yang menemukan picunya di Ibukota, hanya karena persoalan politik kepentingan, menjadikannya bukan hanya urusan mereka saja, namun sudah menjadi urusan bangsa.

Semuanya, yang bertendensi tinggi itu dihasilkan dari pongah orang dewasa. Dan seperti biasa, anak-anak akan menemukan cara menampar muka orang tua dengan warna dunianya.

Maka di tengah situasi inilah Tok-Tok hadir dengan jemawa.

Beberapa waktu lalu, saat pandemi Telolet mencuri perhatian, saya berucap pada seorang kawan bahwa itu adalah cara bocah dalam menertawakan dunia. Bahwa mereka tak mengenal istilah “Bahagia itu sederhana” bikinan orang dewasa. Mereka, para bocah itu, tak ingin dipusingkan dengan definisi-definisi yang mengganggu kesenangan.

Kita yang melihat rekaman telolet, tak tertawa karena bebunyian klaksonnya, namun lebih karena ekspresi tanpa pura-pura yang ditampilan para bocah. Di sini kita menemukan perbedaan, ketika bocah-bocah menertawakan bunyi klakson kita justru menertawakan mereka.

Tok-tok Berbunyi di Ternate

Jika telolet menggema di tanah Jawa, lain lagi dengan di Ternate. Akhir-akhir ini telinga kita akrab dengan bunyi konstan yang dihasilkan dua buah bola plastik, kedua bola itu diikat pada sebuah tali pada masing-masing ujungnya. Namanya Tok-Tok, menjurus pada bunyi yang dihasilkan.

Pada Tok-Tok saya menemukan waktu yang telah lewat, tentang masa yang tak diganggu persoalan, ketika masalah hanyalah berupa PR Matematika yang belum kelar.

Orang tumbuh dewasa, tidak dengan permainan. Sebuah permainan akan tetap menjadi medium, mengisi tiap-tiap generasi yang lewat.

Saya ingat dulu ketika berusaha memainkan Tok-Tok, saya memainkannya tak kenal lelah, sebab keterampilan memainkan adalah sebuah prestige bagi pergaulan, percayalah, jika anda pandai memainkannya maka di hadapan teman anda akan terlihat bak matador yang selalu berhasil menaklukkan banteng. Tak peduli tangan yang bengkak karena berhari-hari berlatih.

 

Permainan Adalah Terminal Singgah Tiap Generasi

Beberapa hari lalu adik saya yang berusia 6 tahun tengah asik memainkan Tok-Tok, saya mendekatinya, menanyakan bagaimana cara memainkannya. Tak banyak bicara. Saya langusng saja mengambil dan memainkan tok-tok  milik adik saya. Dalam sekali percobaan kedua bola itu bisa saling berbenturan di kedua sisi (atas dan bawah). Ketika itu saya melihat ekspresi bocah di depan saya, ia nampak terheran-heran sedikit terkesima, tentu saja ia tak pernah melihat saya memainkan Tok-Tok, bagaimana bisa orang  ini langsung bisa saat pertama mencobanya. Mungkin begitu yang dipikirkan adik saya saat itu.

Pada fase ini kita bisa menemukan bahwa satu generasi akan terus menemukan sesuatu yang baru, hingga kemudian ia tumbuh dewasa dan mendapati hal tersebut berulang pada generasi sesudahnya. Sebuah permainan tak ubah terminal singgah tiap generasi, singgah dan bermain lantas setelah itu tumbuh dan melupakan, berganti pada bocah yang lain dengan kesenangan yang sama.

Di titik ini juga saya merasakan kehilangan pada kebanggaan yang dulu pernah hinggap, kebanggaan karena mampu memainkan permainan tersebut, tak ada lagi perasaan senang seperti dulu, semuanya biasa saja, bahkan saya justru mencari-cari di mana letak kesenangan ketika memainkannya. Ah orang dewasa yang rumit.

Seorang kawan pernah bilang bahwa orang dewasa adalah manusia yang malu bermain, saya sepakat dengan anggapan itu, bahwa kita, para orang dewasa, tak betul-betul meninggalkan perasaan ingin bermain, tetapi segala tuntutan dan keadaan sosial yang menjadikan kita malu untuk bermain. Istilah “kacil-kacil tara bahagia” mungkin bisa menjadi landasan pada asumsi ini. Ka bagemana?

Padahal Johan Huizinga, seorang sejarawan dus filsuf asal Belanda beranggapan bahwa manusia adalah makhluk bermain, Huizinga menggunakan terminologi Homo Ludens untuk menjelaskannya. Baginya bermain adalah kategori utama kehidupan, sebagai sifat hakiki manusia. Sejarah menyebutkan bahwa permainan selalu berkelindan erat dengah kebudayaan. Bisa dilihat pada karya yang lahir saat abad-abad renaisans yang penuh dengan pesona permainan. Pada Yunani Kuno ada Erasmus, sedang pada renaisans kita bisa menyebut nama Shakespeare.

Homo Ludens adalah sebuah kritik terhadap budaya modern yang selalu diisi dengan tetek-bengek kekakuan, batasan-batasan yang menjadikan pesona hidup kian kering dan tanpa warna.

Sejak revolusi industri, dan menguatnya aspek kerja yang mementingkan kuantitas nihil kualitas, nilai estetis pada hidup pelan-pelan memudar.

Pada sepakbola misalnya, bagi anak-anak permainan ini adalah sebuah wahana tamasya yang melemparkannya dari segala macam tugas di sekolah. Namun menjadi lain ketika dipandang orang dewasa, sepakbola berubah menjadi permainan bertabur perhitungan, angka-angka yang membosankan, serta intrik politis yang mengesalkan. Bahkan bagi Che Guevara, permainan ini menjadi begitu serius di matanya, baginya sepakbola bisa menjadi alat revolusi. Mungkin Akak Che hanya kurang piknik saja.

Semuanya bisa sebegitu rumit di mata orang dewasa, bahkan dalam hal permainan sekalipun. Imajinasi yang kering tentu akan membuat kehidupan menjadi gersang, maka yang ada adalah kekakuan yang melahirkan kebencian.

Pada telolet yang syahdu, pada Tok-Tok yang menyenangkan, juga pada sepakbola yang tanpa pretensi, anak-anak membangun dunianya dan menertawakan kita yang rumit ini, hingga lupa bahwa sejak tadi saya berupaya menggambarkan watak kanak-kanak dengan cara yang juga rumit. Ah syudahlaaah~

Penulis:

Rizal Syam
Rizal Syam

 

Views All Time
Views All Time
202
Views Today
Views Today
3
Like

Tinggalkan Balasan