Festival Kota Jou

“Merawat Masa Lalu”

Saya terharu ketika bunyi tifa membahana, menandakan rombongan Kesultanan Tidore bersama Walikota Tidore telah tiba untuk menghadiri Festival Kota Jou di Topo, sebuah perkampungan dataran tinggi di Kota Tidore Kepulauan. Kedatangan mereka disambut dengan Tarian Soya-soya.

Hari itu 16 Juli 2016, kali kedua pagelaran festival yang digagas Forum Pemuda Topo atau FATO. Sebelumnya, Festival Kota Jou digelar tahun lalu. Setelah penyambutan rombongan Kesultanan dan Walikota, seluruh peserta festival yang berpakaian khas Topo tersebut diarak menuju lapangan (lokasi acara) Sekolah Dasar (SD) Topo. Menariknya, seluruh peserta yang dipisahkan menjadi 14 rombongan mengusung temanya masing-masing. Diantaranya;

Anak-anak Topo, Pulau Tidore saat memeriahkan Festival Kota Jou yang. (Foto: M Firdaus Asri)
Anak-anak Topo, Pulau Tidore saat memeriahkan Festival Kota Jou. (Foto: Juandi Barakati)

(1), Imam Syara, “sigoko adat sodia ifa agama”. (2), Mansia kia, “tika haram mahijab la yodadi halal toma ijab se kabul”. (3), Barisan Majelis Taklim, “sidoto syareat te yaya se gowa”. (4), Mansia Sunat, “syahadat te ngofa se dano”, (5), Taji Besi, “paji yo koko dzikir yo paka besi yo dadi ake”, (6), Yaya se Goa, dengan tema (tarian dana dana) “papa se yuma kabe ge farangom mo kage”. (7), Rombongan Mansia Gura, dengan tema  “ofu se rikula mawaja gari makarana ngon ngofa sedano”. (8), SD Topo (tarian galasi), (9), Balakusu Sekano-kano “parenta uci  ngom mo gahi”, (10), TK Sarabati (atraksi budaya), (11), Pasukan Bertifa “tifa no butu–butu meme fugo magai nyelo, tifa no hasa-hasa kapita laga se selo-selo”, (12), Para Kapita “jou ngon no karo farangom mo haro “, (13)Para Sowohi “manyan manyofo paka, tifa se rababu waro magunyihi”, dan (14) Baramasuwen.

***

Masyarakat Topo dalam memeriahkan Festival Kota Jou. Festival ini memperingati kelahiran sultan Tidore yang pertama. (Foto: M Firdaus Asri)
Masyarakat Topo dalam memeriahkan Festival Kota Jou. Festival ini memperingati kelahiran sultan Tidore yang pertama. (Foto: M Firdaus Asri)

Peristiwa Kota Jou (Topo doi Kaicili) terjadi sekitar abad ke-13 M. Kota Jou sangat erat hubungannya dengan Bobato Awal Kesultanan Tidore. Menurut tetua adat di Topo, Gam “Ciruliyati” membawa simbol keluar (sita-sita) syariat ke Limau Tomore (soasio), sedangkan ke dalam (kornono) adalah hakikat ke Limau Tofo Bobato (Topo Gam).

Kota Jou  adalah sebuah proses dimana masyarakat  Limau Tofo bersama-sama mengantarkan  seorang bayi yang merupakan anak dari Syekh Abu Hasan dan Jou Boki Balibunga, putri dari Jou Balibunga atau Jou Alam Macahaya atau dikenal dengan Jou Intan Permata, yang menurut cerita  dilahirkan oleh ibunya di sebuah tempat yang saat ini di kenal dengan Rabbu (Goya Rabbu) yang kemudian diberi nama Ciruliyati atau lebih dikenal dengan Sultan Muhammad Djamaluddin Ciruliyati, tak lain adalah Sultan Tidore yang pertama.

Konon, Jou Boki melahirkan anaknya saat melakukan perjalanan ke Timore (Soasio), di Rabbu (sekarang Topo 3), antara Topo dan Soasio. Usai ia melahirkan, warga Topo mengurus dan merawatnya, kemudian mengantarkan Jou Boki dan bayinya ke Limau Timore untuk dirawat dan dibesarkan oleh Sinobe atau Duku Malamo (penyebutan untuk bidan di kesultan Tidore).

Sinobe pun membuat tandu dari batang pepaya untuk menaruh si bayi, kemudian dipayungi dengan dua lembar daun buru (sejenis tanaman sukun). Bagi Sinobe, daun buru yang dipakai untuk melindungi anak Jou Boki memiliki makna filosofi. Ia memetik dua daun, satu yang masih hijau dan satunya lagi telah menguning. Daun buru bermakna kepemimpinan, hijau adalah pemimpin yang cinta kedamaian, dan kuning bermakna pantang menyerah.

***

Anak_anak Topo, Tidore membawa rabana dalam Festival Kota Jou. (Foto: M Fidaus Asri)
Anak-anak Topo, Tidore, membawa rabana dalam Festival Kota Jou. (Foto: M Fidaus Asri)

Pada tradisi Kota Jou ada prosesi Gosa Loya-loya” yaitu, dimana masyarakat Topo, Kalaodi, dan Togubu mengantarkan makanan dan keperluan lainnya untuk Sinobe yang sedang merawat bayi Jou Boki. Inilah yang dikenal dengan ”Kota Jou”.

Dan pasukan kapita berpakaian serba putih, memegang peda (parang) dan salawaku yang kepalanya diikat Gone Kohori  mengelilingi lokasi acara untuk pengamanan bahwa acara puncak segera dimulai, setelah pihak Kesultanan Tidore yang diwakili oleh Jou Mangofa dan Walikota Tidore memberi sambutan. Segerombolan orang memakai besu (sejenis blangkon) dengan baju kokoh putih serta celana kain hitam, dan perempuan mengenakan kabaya putih dan puta (kain batik).

salah satu prosesi dalam Festival Kota Jou yakni, Sinobe atau bidan Kesultanan Tidore menyerahkan bayi ke struktur kesultanan Tidore. (Foto: M Firdaus Asri)
Salah satu prosesi dalam Festival Kota Jou, yakni, Sinobe atau bidan Kesultanan Tidore menyerahkan bayi ke struktur kesultanan Tidore. (Foto: M Firdaus Asri)

Penyerahan bayi oleh segerombolan orang tersebut mengingatkan kita pada muasal hidup Muhammad Djamaluddin Ciruliyati, sultan Tidore yang pertama. Sang bayi menangis dan tangisannya membuat sedih Kapita Kie Kesultanan Tidore. Saya melihat beliau menundukkan kepala dan menghapus air matanya. Masyarakat Topo dan semua orang yang ikut menyaksikan peristiwa itu tercenung, kita diingatkan untuk merawat dan melestarikan masa lalu. (*)

Penulis dan anak anak Topo, Pulau Tidore memegang parang dan salawaku dan berperan sebagai pasukan keamanan dalam Festival Kota Jou. (Foto: M Firdaus Asri)
Penulis dan anak-anak Topo, Pulau Tidore memegang parang dan salawaku dan berperan sebagai pasukan keamanan dalam Festival Kota Jou. (Foto: M Firdaus Asri)

Penulis:

Firman M. Arifin
Firman M. Arifin
Views All Time
Views All Time
483
Views Today
Views Today
2
Like
1

Tinggalkan Balasan